Here are brief of mario teguh’s show conclusion:
- Sebenarnya tidak ada yang hebat, kita berhasil hanya karena menuruti hal yang baik dalam hati kita
- Self full feeling provicy. Hati-hati dengan perasaan negative
- ALasan kenapa kita pernah hidup, temukan dan jangan bertanya lagi
- Kita membutuhkan penyesalan. Ketika kita kembali dari penyesalan, kita kembali dengan hebat.
- Hati sebenarnya banyak menasihatkan kebaikan, tetapi berhenti bicara ketika kita tidak mendengarkan. Mulai sekarang, patuhlah pada suara hati anda lalu perhatikan apa yang terjadi
Aku mulai berpikir seandainya besok memang tidak pernah ada, akankah aku memulai untuk mengatak bahwa aku sayang kamu, mam. Bisa terhitung dengan jari berapa kali aku mencium pipi dan kening ibuku. Mungkin setahun sekali pada saat setelah sungkeman lebaran. Setelah mendengar pak mario, hati ini terasa ngilu. Sebegitu apatisnya aku terhadap ibuku dan ayahku sendiri. Apakah aku terlalu sombong hingga akhirnya aku bahkan tidak pernah memperlakukan mereka sebagaimana mestinya mereka harus diperlakukan dengan kasih dan cinta. Mungkin ayahku juga bukan tipe orang yang kasih mengasihi, tapi tidak bisakah aku yang terlebih dahulu mencoba untuk mengasihi mereka. Selama ini aku selalu berdoa untuk kesehatan, kesejahteraan mereka. Tapi aku selama ini tidak sadar bahwa aku tidak melakukakn sesuatu yang riil. Semua hanya fana. Mama selalu mendoakan aku, tetapi apakah aku pernah berterima kasih akan doa yang selalu dia panjatkan ke Allah untuk segala keberhasilan yang dia berikan untuk anak-anaknya.
Aku berada di posisi yang sulit. aku tidak menyalahkan siapapun atas sikapku. Aku terbentuk dari keluarga besar yang apatis, individual. Bahkan aku mengakui aku tidak ingin suatu saat aku berkeluarga aku menjadikan anakku seperti aku. Aku tidak lebih dari sebuah produk koloni yang menyerupai indungnya. Tapi aku yakin dengan keyakinanku nanti aku dapat merubah herediti yang selama ini melekat dalam tubuh dan darahku.
Mama, Papa aku mencintai kalian. Aku butuh jiwa besar untuk mengatakan ini kepada kalian. Tapi aku belum tahu kapan waktu itu tiba. Seandainya hari esok tak ada, akankah aku mengatakannya hari ini atau tidak sama sekali.